Pemeriksaan Kadar Kolesterol, SGPT-SGOT dan Bilirubin dalam Darah

Pemeriksaan Kadar Kolesterol

Steroid merupakan kelompok kecil lipid yang tersusun dari empat molekul berbentuk cincin yang saling bergabung. Tiga dari molekul cincin tersebut berbentuk piran dan satu molekul cincin berbentuk furan. Keton, alkohol, ikatan rangkap, dan rantai hidrokarbon dapat terikat pada cincin-cincin tersebut sehingga terbentuk berbagai macam tipe steroid. Salah satu steroid yang cukup dikenal luas adalah kolesterol.

Kolesterol merupakan molekul yang amfifilik karena memiliki gugus hidroksil yang bersifat polar, tetapi memberikan sifat yang lebih kaku pada membran sel daripada lipid membran yang lainnya. Kolesterol sendiri tidak larut dalam darah, untuk itu perlu berikatan dengan pengangkutnya yaitu lipoprotein, yaitu low-density lipoprotein (LDL) atau dikenal dengan lemak “jahat” dan high-density lipoprotein (HDL) yang dikenal dengan lemak “baik”. Kolesterol merupakan molekul yang penting dalam menentukan sifat membran. Selain itu, kolesterol juga bermanfaat sebagai prekursor dari metabolisme hormon steroid, yaitu suatu substansi yang mengatur berbagai macam fungsi fisiologis, misalnya perkembangan seksual dan metabolisme karbohidrat.

Berdasarkan penjabaran tersebut, diketahui bahwa kolesterol memiliki peran penting bagi makhluk hidup. Meskipun demikian, kadar kolesterol yang terdapat pada darah harus dalam jumlah yang tepat. Kolesterol yang normal harus di bawah 200 mg/dl. Kolesterol dalam darah tidak boleh berada dalam jumlah/ kadar yang tinggi, karena ini dapat menyebabkan penyakit hiperkolesterolimia, atau lebih dikenal oleh masyarakat dengan penyakit kolesterol tinggi. Orang yang memiliki kadar kolesterol terlalu tinggi pada darah memiliki resiko yang tinggi terkena penyakit jantung koroner maupun stroke. Aterosklerosis adalah suatu kondisi dimana kolesterol bertumpuk pada dinding pembuluh darah arteri (pembuluh darah yang terletak di jantung yang menyediakan oksigen untuk jantung), aterosklerosis merupakan penyebab utama terjadinya penyakit jantung koroner.

Kadar kolesterol terlalu rendah juga tidak baik, karena hal ini merupakan salah satu gejala bahwa terdapat gangguan pada salah satu atau beberapa fungsi organ. Ada beberapa kemungkinan gangguan organ yang terjadi bila kolesterol berada pada jumlah yang cukup rendah. Kemungkinan pertama, bisa jadi ada radang hati dadakan (acute hepatitis). Apa pun penyebab radang hatinya, bisa memunculkan tanda kolesterol darah yang biasanya stabil, mendadak turun. Demikian pula bila kelenjar gondok kelewat aktif (hyperthyroidism), atau sedang terserang infeksi yang muncul dadakan (acute infections), atau pada keadaan menurunnya fungsi ginjal yang tahap berat, sehingga ureum bocor dalam darah atau disebut uremia.       

Kadar kolesterol dalam darah selalu berubah-ubah di setiap waktu, meskipun perubahan ini tidak seberapa bedanya. Banyak faktor yang mempengaruhinya terutama faktor genetik, umur, seks dan lingkungan. Berdasarkan penjelasan di atas, maka pemeriksaan kadar koelsterol dalam darah sangat perlu dilakukan. Apabila seseorang mengetahui kadar kolesterol yang terdapat di dalam darah, maka akan dapat dilakukan sebuah langkah preventif untuk menjaga kestabilan kadar kolesterolnya.

Salah satu cara pemeriksaan kadar kolesterol adalah dengan metode enzimatik CHOD-PAP (Cholesterol Oksidase Phenol Aminoantipyrin). Prinsip metode ini adalah penguraian kolesterol dan esternya menjadi peroksida dengan hidrolisis dan oksidasi enzimatik. Indikator kuinonimin dibentuk dari hidrogen proksida dan 4-aminofenanzon yang berasal dari fenol dan peroksidase. Reaksi akhir akan menunjukkan warna merah muda yang intensitasnya diukur dengan fotometrik. Pemeriksaan kadar kolesterol melibatkan proses biokimia karena menggunakan reaksi enzimatis sehingga timbul reaksi yang menghasilkan senyawa akhir yang dapat mencerminkan kadar kolesterol dalam darah dan dapat diukur.

Pemeriksaan Kadar SGPT – SGOT

SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase), merupakan sebuah enzim yang biasanya ditemukan dalam jantung dan sel-sel hati. SGOT dilepaskan ke dalam darah ketika hati atau jantung rusak. Kadar SGOT dalam darah cukup tinggi apabila terjadi kerusakan hati (misalnya, hepatitis) atau apabila terjadi kerusakan jantung, (misalnya serangan jantung). Enzim SGPT berperan dalam deaminasi asam amino, pengeluaran gugus amino dari asam amino.

SGPT (Serum Glutamic Piruvic Transaminase), merupakan enzim yang banyak ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis terjadinya penurunan fungsi sel hati. Akan memindahkan gugus amino pada alanin ke gugus keto dari α-ketogutarat membentuk glutamat dan piruvat. Selanjutnya piruvat diubah menjadi laktat. Reaksi tersebut dikatalisasi oleh enzim laktat dehidrogenase (LDH) yang membutuhkan NHDA dalam reaksi yang dikatalisasinya. SGOT juga berperan dalam deaminase asam amino, SGOT mengkatalisasi pemindahan gugus amino pada aspartat ke gugus keto dari α-ketogutarat membentuk glutamat dan oksaloasetat dan selanjutnya oksaloasetat

Prinsip pemeriksaan kadar SGOT adalah sebagai berikut.  Aspartat bereaksi dengan 2- oksoglutarat GOT glutamat dan oksaloasetat. Oksaloasetat yang terbentuk bereaksi dengan 2,4 – dimitrophenylhidrazin dalam larutan alkalis. Hasil reaksi tersebut ditentukan secara fotometri pada panjang gelombang 500 sampai 560 nm. Pada prinsip tersebut jelas terlihat adanya reaksi kimia, itu adalah salah satu proses yang menerapkan ilmu kimia pada pemeriksaan kadar SGOT dalam darah.

Prinsip pemeriksaan kadar SGPT adalah Alanin bereaksi dengan 2–oksoglutarat GPT glutamat dan piruvat. Piruvat yang terbentuk bereaksi dengan 2,4 – dimitrophenylhidrazin dalam larutan alkalis. Hasil reaksi tersebut ditentukan secara fotometri pada panjang gelombang 500 sampai 560 nm. Pada prinsip tersebut jelas terlihat adanya reaksi kimia, itu adalah salah satu proses yang menerapkan ilmu kimia pada pemeriksaan kadar SGPT dalam darah.

 

Pemeriksaan Kadar Bilirubin

Berikut ini prosedur pemeriksaan kadar bilirubin dalam darah. Langkah pertama adalah pengambilan sample darah, sample darah diambil melalui pembuluh vena. Tahap kedua adalah pembuatan serum dengan cara mendiamkan darah yang berada dalam tabung vakuntainer selama 10 menit, kemudian memasukkan ke dalam tabung sentrifuge, dan selanjutnya disentrifius dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Lapisan jernih berwarna kuning muda yang berada di bagian atas dipisahkan dengan menggunakan pipet dan dimasukkan pada tabung lain yang bersih dan diberi label yang sesuai.

Tahap ketiga adalah pembuatan plasma, darah yang terdapat dalam tabung EDTA dibiarkan selama 5 menit. Kemudin dimasukkan ke dalam tabung dan disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Lapisan jernih warna kuning muda yang berada di bagian atas adalah plasma EDTA kemudian dipisahkan dengan menggunakan pipet dan dimasukkan pada tabung lain yang bersih dan diberi label yang sesuai. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kadar bilirubin total (serum + plasma) dengan menggunakan sebuah alat, sehingga dapat diketahui kadar bilirubin pada darah pasien.

Prinsip dari pemeriksaan kadar bilirubin adalah sebagai berikut. Bilirubin indirect yang terikat oleh albumin dibebaskan dengan adanya detergen. Bilirubin total akan bereaksi dengan garam 2,5-dichloro penyldiazonin, kemudian akan membentuk warna merah. Berdasarkan penjelasan tersebut, diketahui bahwa ilmu biokima dapat diaplikasikan untuk pemeriksaan bilirubin karena dengan mengetahui reaksi kimia yang terjadi antara senyawa organik (dari makhluk hidup) dengn  senyawa anorganik (sintetik), maka dapat dilakukan bebagai tes kandungan senyawa tertentu dalam tubuh makhluk hidup.

Daftar Rujukan

Anonim. 2010. Pemeriksaan Kadar Bilirubin Total dalam Serum dan Plasma pada Balita yang dirawat Inap di Rs.Telogorejo, (online), (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/125/jtptunimus-gdl-hijriyahwa-6221-3-babiii.pdf, diakses tanggal 16 September 2012)

Fathoni, Fajarullah. 2008. Studi Kadar SGPT, SGOT dan Total Protein Pada serum darah Anjing Kampung (Canis Familiaris) Usia 3 dan 6 Bulan, (online), (http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/3342/B08ffa.pdf?sequence=4, diakses tanggal 16 September 2012)

Limanto. 2010. Penentuan Kadar Kolesterol dengan Metode CHOD-PAP (Cholesterol Oksidase Phenol Aminoantipyrin). Yogyakarta:Sanata Dharma

Masrufi, Mochammad Machid. 2008. Pemeriksaan HDL dan LDL Kolesterol sebagai Parameter Penaksiran Resiko Penyakit Jantung Koroner, (online), (http://alumni.unair.ac.id/kumpulanfile/913832753_abs.pdf, diakses tanggal 16 September 2012).

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: