Cuplikan Proyek Pertama
Keinginanku untuk keluar dari neraka ini sudah penuh. Aku benar – benar tak tahan lagi mendengar omelan dari wanita asing yang dulu sempat kupanggil Mama. Dengan pikiran kalut dan amarah yang memuncak, kubereskan pakaian dan beberapa barang yang kuanggap layak untuk diselamatkan dari rumah terkutuk ini. Termasuk foto keluarga kami. Ralat. Foto kami bertiga yang telah kusobek hingga hanya tersisa wajahku dan almarhum ayahku.
“Rendy, I’m out!”
“Maksudnya?”
“Aku sekarang lagi siap – siap buat keluar dari tempat sialan ini. Wanna help me?”
“Serius?”
“Hmmm… Kalo mau nolong, sekarang jemput aku di depan rumah.”
“Aku ke sana sekarang.”
Saat keluar sambil menjinjing tas kecilku, hanya Mbok Siti yang terlihat mondar – mandir di bawah tangga. Begitu melihatku, dahinya yang telah mengerut makin tertekuk.
“Adek mau ke mana?”
“Pergi.”
“Pergi ke mana? Kok bawa tas segala?”
“Yah, pokoknya pergi.”
“Lama?” sahutnya pelan sambil memandangi kakiku.
“Mbok kan tahu aku udah nggak pernah betah buat tinggal di rumah ini lagi. Jadi mungkin kayaknya aku nggak pengen balik lagi.”
“Tapi kasihan Ibu…”
“Kasihan buat apa? Dia kan udah nggak perlu aku lagi. Di sini aku cuma ngrepotin.”
“Siapa bilang? Mbok seneng kalo ada Adek di rumah.”
“Itu kan mbok. Beda lagi sama Mama.” sahutku sambil terus melangkah.
“Nggak kok…. nggak, Ibu sayang banget sama Adek. Buktinya Ibu suka kuatir kalo Adek lama nggak pulang.”
“Itu bukan karena sayang sama aku, tapi dia takut aku bikin ulah yang bisa buat nama baiknya hancur!”
“Mbok nggak ngerti…. Mana ada orang tua yang nggak sayang sama anaknya?”
“Udahlah, Mbok. Yang jelas aku sekarang pengen pergi. Nanti kalo dia tanya, bilang aja aku pergi ke rumah temen atau apalah…. terserah mbok. Mau bilang nggak ngeliat waktu aku pergi juga nggak pa pa. Tar Mbok perhatiin, lama–lama dia pasti lupa kalo pernah punya anak yang namanya Lina.”
Mbok Siti hanya tertegun melihatku mulai melangkah. Sempat terekam oleh mataku, saat sebulir air mata turun di pipinya yang keriput. Aku berusaha keras untuk tidak peduli, dan meneruskan langkahku yang sejengkal lagi menuju kebebasan.
***
Ketika membuka gerbang besar angkuh yang menutupi muka bangunan ini, sebuah mobil hitam telah menungguku. Wajah keras di belakang kemudi menyunggingkan sebuah tatapan heran dan tidak mengerti saat melihat keadaanku.
“Jalan gih!” perintahku ketus sambil menutup pintu mobil.
“Enak aja! Kasih tahu dulu ada apa!’
“Iya, tapi jalan dulu! Males ngebahas di sini.”
Walau dengan tampang yang tidak rela, Rendy menjalankan mobilnya. Begitu melewati pos penjagaan yang menandai telah keluarnya kami dari kompleks orang – orang terhormat ini, otot – otot sarafku perlahan mengendur. Namun kutetap memilih untuk diam ketika tatapan ingin tahu Rendi sesekali masih menghujami wajah kusut dan sembabku.
“Telen dulu deh penasarannya! Laper nih.”
“Tapi cerita ya?”
“Hmmmm…” sahutku malas – malasan.
Seporsi ikan bakar di pesisir pantai jauh lebih menarik bagiku saat ini ketimbang membicarakan masalah. Dan aku tahu, Rendy tidak akan pernah tega menggangguku saat makan. Bahkan bisa dikatakan dia akan melakukan apapun untuk membuatku mau makan.
Setelah memesan ikan dorang bakar, cumi pedas manis kesukaan Rendy dan dua gelas es kelapa muda, kami memilih tempat lesehan yang terdekat dengan pertemuan antara sungai terbesar di kota ini dengan laut yang berupa teluk kecil. Dulu, sebelum rumah makan cozzy ini berdiri, kami sering memancing di tepi – tepi sungai. Dengan umpan berupa campuran menjijikan yang entah terbuat dari apa, kami selalu berhasil membawa pulang ikan – ikan berukuran sedang. Mmmm, lebih tepatnya Rendy yang berhasil karena aku lebih sering meruwetkan senar pancingku daripada menjulurkannya untuk memerangkapi ikan.
Sayangnya masa–masa tanpa beban itu sudah lewat. Sekarang inilah kami, dengan segala ke-kami-an yang menyebalkan. Kelihatan sekali kalau cowok yang menyelonjorkan kakinya dengan malas–malasan di depanku ini sedang meyiapkan diri untuk berujar sesuatu. Aku menatapnya lama untuk memastikan kalau dia boleh bersuara sekarang.
“Sekarang kamu mau tinggal di mana?”
“Kirain mau nanya apaan.”
Rendy memamerkan deretan giginya yang putih rata sambil berkata, “Sebenernya tadi banyak yang mau aku tanyain. Tapi ngeliat tampang jelekmu aja aku udah tahu jawabannya.”
“Ga tahu, Ren. Kayaknya aku mau ngekos aja.”
“Kalo gitu tar aku cariin.”
Entah karena masalah dari rumah tadi ataukah karena terharu atas perhatian Rendy, air mataku merebak. Seberapa hebat pun usahaku untuk menyembunyikannya, cowok itu segera tahu kalau aku menangis. Dan kalapnya mulai kambuh.
“Udah deh, ngapain sih? Aku nggak butuh tissue ! Pake tissue makan lagi! Rendi!!! Jangan ngelap mataku pake air kobokan!”
*****
Tadi tuh grand opening dari movel yang sekarang masih dalam tahap pengerjaan. Mohon komentar dan doanya ya….Really need that!Makasih…

No trackbacks yet.