Enzim Protease pada Detergen

Deterjen adalah surfaktan anionik dengan gugus alkil atau garam dari sulfonat atau sulfat berantai panjang dari natrium yang berasal dari derivat minyak nabati atau minyak bumi (fraksi parafin dan olefin) (Arifin 2008). Perbedaan suatu deterjen adalah dilihat dari komposisi dan bahan tambahannya (aditif). Deterjen dalam kerjanya memiliki kemampuan yang unik untuk mengangkat kotoran, baik yang larut dalam air maupun yang tidak larut dalam air. Hal ini disebabkan bahwa deterjen, khususnya molekul surfaktan (surface active agent) berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Dibanding dengan produk terdahulu yaitu sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air (Ahmad 2004).

Enzim protease yaitu jenis alkali protease merupakan salah satu turunan dari enzim serin. Protease alkali ditemukan aktif pada pH antara 8-13 dan banyak yang termasuk ke dalam golongan protese serin subtisilin (Neurath 1989 dalam Suhartono 2000). Enzim alkali protease bagi industri deterjen ini paling banyak diproduksi dari jenis bakteri, jamur, serangga, atau  diproduksi dari bahan pengganti lainnya dari minyak bumi.

Enzim alkali protease spesifik terhadap residu asam amino aromatik atau hidrofobik penilalanin atau leusin pada sisi karboksil dari titik pemutusan (Suhartono 2000). Karena itulah enzim protease diharapkan dapat meningkatkan efektivitas daya pembersih deterjen yaitu dengan cara mendegradasi kotoran yang berupa protein dari pakaian sehingga memudahkan kerja dari surfaktan dalam melepaskan kotoran yang menempel di pakaian.

Menurut Sulistyo (1999) protease merupakan enzim utama yang digunakan dalam deterjen. Enzim ini berfungsi untuk menghidrolisa noda protein pada pakaian sehingga kotoran yang rnengandung protein seperti darah, lendir, keringat dan sebagainya akan mudah tercuci. Disamping itu kotoran lainnya yang terikat pada protein juga rnenjadi lebih rnudah dihilangkan. Protease yang terdapat pada deterjen biasanya bekerja pada pH alkali dan suhu yang cukup tinggi.

Enzim dalam hal ini protease, sebagai katalisator hayati dimanfaatkan dalam indutri detergen karena sifatnya yang efisien, selektif, predictable, serta mengkatalis reaksi tanpa produk samping. Penggunaan bahan yang berupa hasil ekstraksi enzim akan mudah mengalami biodegradable  dan kemampuan enzim alkali protease dalam meningkatkan efektivitas daya pembersih deterjen akan mengurangi juga bahan kimia yang biasanya digunakan pada deterjen seperti Na2CO3, sehingga penggunaan enzim ini diharapkan dapat membuat produk deterjen yang lebih ramah terhadap lingkungan (Suhartono 2000).

 

Daftar Rujukan

Ahmad R. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Andi Offset

Arifin. 2008. Metode Pengolahan Deterjen. Madiun : Radionuklida

Suhartono M. T. 2000. Pemahaman Karkteristik Biokimiawi Enzim Protease dalam Mendukung Industri Berbasis Biotekhnologi. Bogor : Institut Pertanian Bogor

Sulistyo. 1999. Penerapan Teknologi Enzimatik Mikroba bagi Industri Pangan, Farmasi dan Kosmetika. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Bidang llmu Hayat, Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat IPB. Bogor, 16 September 1999

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: