Celoteh


Saya cuma ingin berceloteh. Maaf kalau harus berbelit-belit. Karena saya orang Jawa. Di pulau ini, terutama yang wilayahnya berada di bagian tengah dan sebelah timurnya lalu timurnya lagi, diharamkan untuk berbicara to the point. Semua harus melalui anggah-ungguh yang tepat. Menakar dulu status sosial dan intelegensia orang yang kita ajak bicara. Kalau dia tidak mengerti, berarti kita yang bodoh karena tidak bisa menyesuaikan bahan pembicaraan dengan orang yang kita ajak bicara. Kalau orang tersebut tersinggung karena topik pembicaraan kita terlalu ndeso atau primitif atau pilihan kata kita terpeleset dari yang seharusnya injih menjadi nggih, itu juga salah kita.

Pokoknya panduan pertama untuk dapat menjadi orang Jawa atau untuk mendekati mereka adalah pintar-pintarlah berbasa-basi. Namun hati-hati juga dalam berbasa-basi. Kalau menceritakan tentang ayam yang mati karena virus flu burung, sebutkan saja ayam tersebut mati karena tetelo jangan sebutkan nama H5N1 apalagi mutan-mutannya. Bisa mati salah tingkah nanti. Kalau beruntung, Anda paling hanya disuruh menjelaskan virus macam apa itu. Tenang saja, hanya masalah perlindungan si virus, bagaimana cara mereka berkembang biak, dan bagaimana bentuknya. Sial sedikit, jika menemui keluarga yang intelek, paling juga cuma disuruh menjelaskan pasangan-pasangan basa penyusun DNA-nya dan senyawa penyusun kapsid dari virus tersebut. Tidak sulit bukan? Kemungkinan terburuknya, Anda akan mendapatkan senyuman manis dan anggukan-anggukan kecil plus suara tawa berdehem (hmmm..hmmm..hmmm) dengan interval datar lalu didiamkan sambil disenyum-senyumi sampai kalian ingin segera meninggalkan tempat itu.

Untuk meninggalkan tempat yang kalian datangi tersebut juga tidak mudah. Seperti ikan yang ingin melepaskan dirinya dari keramba nelayan.
Jangan dikira kesalahan KECIL seperti itu tidak akan berpengaruh pada hidup kita. Hal tersebut bahkan bisa mempengaruhi beras harga berapa yang dapat kita makan besok dan lauk apa yang dapat menemaninya. Intinya ya benar-benar menyangkut hidup dan mati kita. Ya, sanksi sosial di Jawa memang bisa menimbulkan derita melebihi hukum pancung di negeri seberang sana.

Saya orang Jawa. Bangga tentu saja. Tapi asal tahu saja, kebanggaan itu diperoleh
dengan tidak mudah. Benar-benar tidak mudah.

 

  1. mampir baca tulisan, mugi-mugi bukunnya cepet rampung.

    • aprilisa
    • August 10th, 2010

    Makasih ya mas,sempat mampir. Sampean juga, semoga buku-bukunya cepat keluar.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: