CLUSTER DAN REPEAT (Genetika)

Kesalahan replikasi atau rekombinasi pada saat duplikasi DNA merupakan pendorong terjadinya evolusi. Kesalahan yang dapat terjadi misalnya translokasi kromosomal, aktivitas transposon, atau akibat serangkaian mutasi. Satu set gen yang diturunkan melalui duplikasi dan variasi beberapa gen “leluhur” disebut sebagai keluarga gen (gene family). Keberadaan gen ini kemungkinan dapat berkumpul atau menyebar pada kromosom yang berbeda atau dapat pula merupakan kombinasi dari keduanya. Anggota dari keluarga gen struktural ini biasanya memiliki fungsi yang berkaitan atau bahkan identik, meskipun gen-gen tersebut kemungkinan diekspresikan pada waktu atau tipe sel yang berbeda. Contohnya adalah protein globin berbeda yang diekspresikan pada sel darah embrio dan sel darah dewasa, serta aktin yang dimanfaatkan secara berbeda pada sel otot dan sel yang bukan otot.

Pembentukan cluster atau kumpulan keluarga gen ini dilakukan untuk mempertahankan identitas. Kumpulan gen ini dapat membentuk susunan yang berpasangan atau berdekatan. Pengulangan pasangan gen secara luas terjadi ketika produk dari gen tersebut dibutuhkan dalam jumlah banyak, contohnya gen untuk rRNA atau protein histon. Kumpulan gen ini juga lebih memungkinkan terjadinya evolusi daripada gen tunggal.

 

Kumpulan Gen Dibentuk Dari Duplikasi dan Perbedaan

Sebuah exon dapat digandakan dan digunakan pada gen yang lain atau bahkan seluruh exon dan intron pada seluruh bagian gen dapat diduplikasi sehingga mutasi dapat terakumulasi. Kopian ini dapat terlibat pada fungsi khusus, misalnya diekspresikan pada waktu atau tempat yang berbeda dengan asalnya.

Umumnya, hasil duplikasi menghasilkan salinan gen yang mirip dengan cetakannya. Dalam beberapa kasus, salinan-salinan tersebut tetap terkait, dan hasil duplikasinya dapat menghasilkan kelompok gen yang saling berkaitan. Contohnya adalah gen pengkode globin, yaitu protein  yang berperan dalam pengangkutan oksigen melalui aliran darah. Semua gen globin berasal dari satu gen “leluhur’, sehingga dengan menelusuri perkembangan gen pengkode globin pada suatu individu dan membandingkannya dengan spesies yang sama atau berbeda, kita mungkin dapat mempelajari mekanisme yang terkait dengan evolusi keluarga gen tersebut.

 

Perbedaan Sekuen adalah Dasar dari “Jam Evolusi”

Sebagian besar perubahan pada sekuen atau urutan protein terjadi akibat mutasi-mutasi kecil yang terakumulasi perlahan, seperti mutasi titik, insersi, dan delesi. Kebanyakan mutasi yang menyebabkan berubahan urutan asam amino akan dihilangkan atau dieliminasi oleh seleksi alam. Bentuk mutasi yang dapat menggantikan gen lama akan menetap dan menyebar pada populasi.

Laju perubahan gen tersebut dapat diukur sebagai persentase perubahan per juta tahun yang merupakan kebalikan dari Unit Evolutionary Period (UEP). UEP dapat ditentukan berdasarkan waktu yang dibutuhkan dalam satuan juta tahun untuk 1% perubahan yang menuju suatu perkembangan.

Ketika suatu spesies mengalami diversifikasi menjadi dua spesies baru yang berbeda, masing-masing spesies tersebut mengalami perkembangan gen yang berbeda. Dengan membandingkan protein-protein yang sesuai dari kedua spesies tersebut, maka kita dapat melihat perbedaan-perbedaan yang telah terakumulasi sejak nenek moyang mereka. Perbedaan tersebut dilihat dari  perbedaan posisi asam amino yang dikode oleh urutan asam nukleat yang bersesuaian. Meskipun terjadi silent mutation, mutasi tetap dapat mempengaruhi ekspresi gen lewat perubahan urutan dalam RNAyang dapat mempengaruhi proses perekaman, pengolahan, atau penerjemahan.

Hal tersebut berlaku pula untuk struktur gen yang berkelompok, sehingga dengan membadingkan perubahan struktur gen yang berkelompok pada suatu spesies, maka kita dapat mengetahui laju evolusi spesies tersebut sekaligus untuk mengetahui hubungan taksonomi antar spesies.

 

Pseudogen merupakan Jalan Buntu dari Evolusi

Pseudogenes merupakan rangkaian yamg terkait dengan gen-gen yang fungsional, tetapi tidak dapat diterjemahkan menjadi protein yang fungsional. Beberapa pseudogenes memiliki struktur yang umummya sama dengan gen-gen fungsional, dengan urutan-urutan sesuai dengan exon dan intron dalam gen biasa. Pseudogen dapat terbentuk akibat mutasi yang menghalangi ekspresi gen tersebut.

Beberapa pseudogen semula merupakan gen aktif dan beberapa yang lain sudah merupakan pseudogen sejak awal generasi. Gen inaktif yang ditemukan saat ini kemungkinan merupakan sisa-sisa dari keseluruhan pseudogen yang dulu ada. Sebagian besar kemungkinan telah tereliminasi oleh proses delesi sekuen karena pseudogen tidak dikenali lagi sebagai bagian dari anggota sekuen. Namun ada mekanisme yang bertanggung jawab atas duplikasi gen, delesi, dan pengaturan ulang yang berlaku untuk semua sekuen yang dikenali sebagai anggota kelompok, meskipun gen tersebut tidak fungsional.

 

Pindah Silang yang Tidak Sebanding Menyusun Kembali Gen Berkelompok

Ada peluang untuk pengaturan kembali dalam gen berkelompok yang berkaitan atau identik. Pengaturan kembali ini, bersama duplikasi dan variasi merupakan faktor penting dalam evolusi, sama pentingnya dengan akumulasi perlahan dari mutasi titik pada suatu gen.

Suatu kelompok gen dapat melebar atau mengerut akibat pindah silang yang tidak sebanding. Hal ini berlangsung ketika rekombinasi terjadi antara gen- gen yang bukan alel nya (nonallelic). Biasanya, rekombinasi melibatkan urutan DNA yang sesuai antara dua kromosom yang homolog. Namun, ketika ada dua salinan sebuah gen di masing-masing kromosom, maka pindah silang yang tidak sebanding tersebut dapat terjadi.

Ketika rekombinasi terjadi antara gen yang tidak bersesuain, peristiwa ini menghasilkan kromosom–kromosom rekombinan yang salah satunya memiliki gen dengan jumlah lebih banyak sedangkan lainnya memiliki gen yang lebih sedikit. Salah satu akibat dari peristiwa ini adalah penyakit thalassemia. Pengurangan salah satu rantai baik α atau β globin dapat menyebabkan penyakit tersebut, salah satunya yang terjadi akibat peristiwa pindah silang yang tidak sebanding tersebut.

 

 

 

Gen rRNA Membentuk Unit Pasangan Berulang

Ada perbedaan antara anggota cluster gen yang memungkinkan tekanan selektif untuk bertindak secara independen dengan sejumlah besar kelompok gen yang berisi banyak salinan gen yang identik. Kebanyakan organisme memiliki salinan yang banyak untuk gen yang mengkode protein histon dan RNA ribosomal. RNA ribosomal adalah produk utama transkripsi yaitu sekitar 80-90% dari massa total RNA seluler baik pada prokariota maupun eukariota. Jumlah gen rRNA utama bervariasi dari tujuh pada E.coli, 100-200 pada eukariota rendah, hingga ratusan pada eukariota yang lebih tinggi. Gen-gen untuk rRNA yang besar dan kecil (masing-masing ditemukan pada subunit besar dan kecil pada ribosom) biasanya membentuk sepasang gen.

Di bakteri, beberapa pasangan gen rRNA tersebar sedangkan dalam inti sel eukariotik, gen rRNA yang terkandung dalam sebuah kelompok atau kelompok yang berpasangan. Fitur diagnostik yang penting dari sebuah kelompok dari gen berpasangan adalah bahwa gen tersebut menghasilkan peta pembatas melingkar yang merupakan wilayah inti di mana terjadi sintesis  rRNA. Wilayang ini  memiliki penampilan khas, dengan inti yang dikelilingi oleh korteks granular. Inti tersebut adalah tempat rRNA yang ditranskripsi dari template DNA, dan korteks granular tersebut dibentuk oleh partikel ribonukleoprotein.

Variasi yang terdeteksi dalam urutan molekul rRNA menyiratkan bahwa semua salinan dari setiap gen pengkodenya identik, atau setidaknya harus memiliki perbedaan di bawah tingkat deteksi di rRNA di bawah 1%. Kurangnya variasi pada ekspresi gen yang berulang ini menunjukkan keberadaan suatu bentuk yang selektif.

 

Fiksasi Pindah Silang dapat Mempertahankan Pengulangan yang Serupa

Prinsip dasar mekanisme mempertahankan sifat identik selama repeat copies adalah mengumpamakan bahwa gen tak sealel tidak menurunkan sifatnya sendiri tetapi regenerasi selalu terjadi bersambungan dari salah satu salinan generasi sebelumnya. Pada kasus sederhana dari 2 gen identik, ketika mutasi terjadi pada salah satu penggandaan, penggandaan yang lain berpeluang untuk dieliminasi karena sekuen dari salinan yang lain hilang atau menyebar menjadi dua duplikasi karena salinan mutan menjadi dominan. Hasilnya adalah ada dua gen yang terikat menjadi satu dengan satu lokus. Kejadian ini disebut dengan “kebetulan” atau evolusi yang direncanakan. Hal tersebut dapat diterapkan pada sepasang gen identik atau untuk DNA yang berisi banyak gen.

Model fiksasi pindah silang memprediksi bahwa sekuen DNA manapun yang tidak di bawah tekanan selektif akan memngalami serangkaian penghasil pengulangan identik. Kritik dari asumsi ini adalah bahwa proses fiksasi pindah silang secara wajar relatif cepat selama mutasi sehingga hasil dari mutasi tersebut akan dieliminasi. Pada kasus cluster atau kelompok DNA, faktor lanjutnya adalah seleksi yang terjadi pada sekuen yang ditranskripsi.

 

DNA Satelit Sering Terdapat pada Heterokromatin

Pengulangan DNA ditentukan oleh cepatnya renaturasi. Komponen yang terrenaturasi secara cepat pada genom eukariotik disebut highly repetitive DNA dan terdiri dari sekuen yang sangat pendek dan berulang serta berpasangan pada suatu kelompok yang besar. Karena terdiri dari unit pendek yang berulang, sekuen DNA ini termasuk sederhana. Tipe ini ada pada hampir semua genom eukariotik tingkat tinggi namun jumlahnya bervariasi. Pada genom mamalia secara umun terdapat 10%, tetapi pada D. virilis contohnya berjumlah hingga 50%.

Pada beberapa kasus, sekuen ini memiliki komposisi basa yang berbeda dari rata-rata genom dan disebut sebagai DNA satelit. DNA ini tidak ditranskripsi atau ditranslasi sama halnya  dengan sekuen DNA yang sederhana. Sekuen berulang yang berpasangan adalah sekuen yang mengalami kesalahan penyusunan selama pemasangan kromosom, dan ukuran dari kelompok yang berpasangan cenderung tinggi, dengan variasi antar individu yang lebar. Pada kenyataannya, kelompok sekuen yang lebih kecil seperti ini dapat digunakan untuk menandai genom individu pada teknik DNA fingerprinting.

DNA satelit ditemukan pada daerah heterokromatin. Heterokromatin adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan daerah kromosom yang secara permanen digulung secara ketat dan tidak memiliki daya, berbeda dengan eukromatin yang mengandung banyak genom. Heterokromatin umumnya ditemukan pada sentromer  yaitu bagian kinetokor yang terbentuk saat mitosis dan meiosis untuk mengkontrol perpindahan kromosom. Letak sentromer DNA satelit menentukan beberapa fungsi struktural pada kromosom. Fungsi ini dapat dihubungkan dengan proses segregasi kromosom.

 

DNA Satelit pada Arthropoda dan Mammalia

Pada artropoda, seperti serangga dan kepiting, DNA satelit tampak homogen. Biasanya, unit pengulangan pendek tunggal berjjumlah >90% satelit. Hal ini secara langsung mempengaruhi penentuan sekuen DNA. Drosophila virilis memiliki tiga satelit utama dan juga sebuah satelit yang tersembunyi, dengan jumlah keduanya >40% bagian dari genom.

Sedangkan pada mammalia, sekuen dari masing-masing satelit menunjukkan perbedaan. Sekuen pendek umum terkait dengan sekuen dominan oleh berbagai substitusi, penghapusan, dan sisipan. Namun serangkaian varian dari unit pendek dapat merupakan unit yang berulang dengan beberapa variasi.

 

Minisatelit Berguna untuk Pemetaan Genetik

Sekuen yang menyerupai satelit dan terdiri dari pasangan yang berulang dari unit pendek, namun secara keseluruhan jauh lebih pendek, yang contohnya terdiri dari 5-50 ulangan, umum ditemukan dalam genom mamalia. Gen ini ditemukan secara kebetulan sebagai fragmen yang ukurannya sangat bervariasi di genom DNA manusia. Variabilitasnya terlihat ketika populasi berisi fragmen dengan berbagai ukuran yang mewakili wilayah genomik yang sama, ketika diperiksa, ternyata ada polimorfisme yang luas dan terdapat alel yang berbeda. Sekuen ini disebut sebagai minisatelit atau VNTR (Variable Number Tandem Repeat).Penyebab dari variasi ini adalah unit pengulangan yang berbeda pada alela suatu individu.

Efek dari variasi pada lokus suatu individu adalah terciptanya suatu pola yang unik untuk setiap individu. Hal ini memungkinkan untuk menetapkan garis  keturunan antara orang tua dan anaknya, dengan menunjukkan bahwa 50% dari band di setiap individu yang diturunkan dari orang tua. Ini adalah dasar dari teknik yang dikenal sebagai DNA fingerprinting.

 

Sumber:

Terjemahan dan interpretasi dari Buku Genes VII yang ditulis oleh Benjamin Lewin (2004)

Dipublikasikan oleh Pearson Prentice Hall Pearson Education, Inc.

Filsafat Diri

Suatu ketika, saya mendapatkan tugas untuk menulis tentang Filsafat Diri. SUlit dan gagu memang. Berikut ini merupakan hasilnya, semoga bisa dijadikan referensi untuk orang-orang yang sedang mengalami nasib yang sama dengan saya saat menulisnya. Iya kawan, memang menggalaukan.

 

Ema Aprilisa merupakan nama yang diberikan oleh orang tua saya. Ema merupakan hasil penggabungan antara nama ayah yaitu Edi dan nama ibu, Mamik. Penggunaan akronim tersebut membuat saya merasa merupakan hasil dari penggabungan ayah dan ibu. Penggabungan genetik dan penggabungan jiwa. Sedangkan Aprilisa, selain berasal dari nama bulan kelahiran saya, ada makna lain dibalik nama tersebut. Berasal dari Bahasa Yunani, apriliz memiliki arti bunga yang sedang mekar. Nama bulan April juga berasal dari kata tersebut, karena setiap bulan April, di Yunani sedang mengalami musim semi, saat bunga-bunga bermekaran.

Saya percaya kalau manusia berasal dari Tuhan. Tuhan yang menciptakan setiap organel sel kita, menyusunnya dengan teliti agar sel-sel tersebut membentuk jaringan, jaringan menyusun organ, yang membentuk sistem organ dalam tubuh kita. Tuhan tidak lupa untuk menciptakan keistimewaan untuk setiap makhluknya, termasuk manusia. Keistimewaan tersebut tercermin dari susunan kode genetik pada Deoxyribonucleic Acid atau DNA yang tidak pernah sama antara manusia satu dengan manusia lainnya, bahkan antara dua orang yang merupakan kembar identik. Keberagaman susunan kode genetik tersebut membuat tidak ada satupun manusia yang sama persis di dunia ini.

Saya menjalani hidup selama lebih dari 23 tahun. Selama itu, saya ada untuk melakukan bagian atau peran saya di dunia ini. Saya percaya kalau setiap manusia diciptakan untuk melakukan bagiannya. Ada yang berlaku sebagai pemimpin dan yang dipimpin, sebagai pembuat dan pembeli, pengkotbah dan yang dikotbahi, pengajar dan yang diajar. Peran hidup tersebut tidak bersifat permanen. Setiap perubahan waktu, selalu membawa perubahan peran setiap orang. Tuhan menyediakan peran bagi setiap orang, pada waktu tertentu. Manusia harus mencari dan mengusahakan agar peran yang tersedia untuknya, dapat menjadi miliknya. Jika manusia tersebut mengusahakan untuk mendapatkan peran yang bukan untuknya, maka walaupun peran tersebut dapat dimilikinya, namun tidak akan menimbulkan kepuasan atau kebahagiaan.

Akhir dari kehidupan ini, akan kembali pada Sang Pencipta sekaligus Sang Penentu Peran. Kehidupan akan berakhir ketika seluruh fungsi kehidupan dalam tubuh manusia terhenti. Kematian tersebut merupakan awal dari suatu bentuk kehidupan yang lain. Kematian hanya berlaku untuk tubuh kita, namun tidak untuk jiwa kita. Jiwa atau ruh akan kembali ke Sang Pencipta, melaporkan semua peran yang telah kita lakukan dengan kehidupan yang diberikan-Nya. Saya percaya kalau Tuhan Maha Kasih sehingga manusia harus mengasihi manusia lain, mengasihi lingkungannya dan mengasihi Tuhan. Kebaikan dan kasih akan membuat kita semakin dekat pada Tuhan dan akan membuat ruh kita diterima dengan baik oleh-Nya, jika kelak tubuh kita mati.

Seperti dua sisi mata uang, selain memiliki sifat kasih, manusia juga tidak akan pernah jauh dari kejahatan. Sesuatu disebut sebagai kejahatan jika manusia yang melakukannya tidak ingin perbuatan tersebut diketahui manusia lain atau meminta manusia lain untuk memahami perbuatannya. Kejahatan yang tidak dimintakan maaf pada yang dijahati, baik manusia lain, alam, ataupun Tuhan, diberi label sebagai dosa. Dosa akan menjauhkan jiwa kita dari kedamaian dan kelak, jika jiwa meninggalkan tubuh, dosa membuat jiwa manusia ditempatkan pada tempat terjauh dari Tuhannya. Tempat itu disebut sebagai neraka.

Enzim Protease pada Detergen

Deterjen adalah surfaktan anionik dengan gugus alkil atau garam dari sulfonat atau sulfat berantai panjang dari natrium yang berasal dari derivat minyak nabati atau minyak bumi (fraksi parafin dan olefin) (Arifin 2008). Perbedaan suatu deterjen adalah dilihat dari komposisi dan bahan tambahannya (aditif). Deterjen dalam kerjanya memiliki kemampuan yang unik untuk mengangkat kotoran, baik yang larut dalam air maupun yang tidak larut dalam air. Hal ini disebabkan bahwa deterjen, khususnya molekul surfaktan (surface active agent) berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Dibanding dengan produk terdahulu yaitu sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air (Ahmad 2004).

Enzim protease yaitu jenis alkali protease merupakan salah satu turunan dari enzim serin. Protease alkali ditemukan aktif pada pH antara 8-13 dan banyak yang termasuk ke dalam golongan protese serin subtisilin (Neurath 1989 dalam Suhartono 2000). Enzim alkali protease bagi industri deterjen ini paling banyak diproduksi dari jenis bakteri, jamur, serangga, atau  diproduksi dari bahan pengganti lainnya dari minyak bumi.

Enzim alkali protease spesifik terhadap residu asam amino aromatik atau hidrofobik penilalanin atau leusin pada sisi karboksil dari titik pemutusan (Suhartono 2000). Karena itulah enzim protease diharapkan dapat meningkatkan efektivitas daya pembersih deterjen yaitu dengan cara mendegradasi kotoran yang berupa protein dari pakaian sehingga memudahkan kerja dari surfaktan dalam melepaskan kotoran yang menempel di pakaian.

Menurut Sulistyo (1999) protease merupakan enzim utama yang digunakan dalam deterjen. Enzim ini berfungsi untuk menghidrolisa noda protein pada pakaian sehingga kotoran yang rnengandung protein seperti darah, lendir, keringat dan sebagainya akan mudah tercuci. Disamping itu kotoran lainnya yang terikat pada protein juga rnenjadi lebih rnudah dihilangkan. Protease yang terdapat pada deterjen biasanya bekerja pada pH alkali dan suhu yang cukup tinggi.

Enzim dalam hal ini protease, sebagai katalisator hayati dimanfaatkan dalam indutri detergen karena sifatnya yang efisien, selektif, predictable, serta mengkatalis reaksi tanpa produk samping. Penggunaan bahan yang berupa hasil ekstraksi enzim akan mudah mengalami biodegradable  dan kemampuan enzim alkali protease dalam meningkatkan efektivitas daya pembersih deterjen akan mengurangi juga bahan kimia yang biasanya digunakan pada deterjen seperti Na2CO3, sehingga penggunaan enzim ini diharapkan dapat membuat produk deterjen yang lebih ramah terhadap lingkungan (Suhartono 2000).

 

Daftar Rujukan

Ahmad R. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Andi Offset

Arifin. 2008. Metode Pengolahan Deterjen. Madiun : Radionuklida

Suhartono M. T. 2000. Pemahaman Karkteristik Biokimiawi Enzim Protease dalam Mendukung Industri Berbasis Biotekhnologi. Bogor : Institut Pertanian Bogor

Sulistyo. 1999. Penerapan Teknologi Enzimatik Mikroba bagi Industri Pangan, Farmasi dan Kosmetika. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Bidang llmu Hayat, Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat IPB. Bogor, 16 September 1999

Pemeriksaan Kadar Kolesterol, SGPT-SGOT dan Bilirubin dalam Darah

Pemeriksaan Kadar Kolesterol

Steroid merupakan kelompok kecil lipid yang tersusun dari empat molekul berbentuk cincin yang saling bergabung. Tiga dari molekul cincin tersebut berbentuk piran dan satu molekul cincin berbentuk furan. Keton, alkohol, ikatan rangkap, dan rantai hidrokarbon dapat terikat pada cincin-cincin tersebut sehingga terbentuk berbagai macam tipe steroid. Salah satu steroid yang cukup dikenal luas adalah kolesterol.

Kolesterol merupakan molekul yang amfifilik karena memiliki gugus hidroksil yang bersifat polar, tetapi memberikan sifat yang lebih kaku pada membran sel daripada lipid membran yang lainnya. Kolesterol sendiri tidak larut dalam darah, untuk itu perlu berikatan dengan pengangkutnya yaitu lipoprotein, yaitu low-density lipoprotein (LDL) atau dikenal dengan lemak “jahat” dan high-density lipoprotein (HDL) yang dikenal dengan lemak “baik”. Kolesterol merupakan molekul yang penting dalam menentukan sifat membran. Selain itu, kolesterol juga bermanfaat sebagai prekursor dari metabolisme hormon steroid, yaitu suatu substansi yang mengatur berbagai macam fungsi fisiologis, misalnya perkembangan seksual dan metabolisme karbohidrat.

Berdasarkan penjabaran tersebut, diketahui bahwa kolesterol memiliki peran penting bagi makhluk hidup. Meskipun demikian, kadar kolesterol yang terdapat pada darah harus dalam jumlah yang tepat. Kolesterol yang normal harus di bawah 200 mg/dl. Kolesterol dalam darah tidak boleh berada dalam jumlah/ kadar yang tinggi, karena ini dapat menyebabkan penyakit hiperkolesterolimia, atau lebih dikenal oleh masyarakat dengan penyakit kolesterol tinggi. Orang yang memiliki kadar kolesterol terlalu tinggi pada darah memiliki resiko yang tinggi terkena penyakit jantung koroner maupun stroke. Aterosklerosis adalah suatu kondisi dimana kolesterol bertumpuk pada dinding pembuluh darah arteri (pembuluh darah yang terletak di jantung yang menyediakan oksigen untuk jantung), aterosklerosis merupakan penyebab utama terjadinya penyakit jantung koroner.

Kadar kolesterol terlalu rendah juga tidak baik, karena hal ini merupakan salah satu gejala bahwa terdapat gangguan pada salah satu atau beberapa fungsi organ. Ada beberapa kemungkinan gangguan organ yang terjadi bila kolesterol berada pada jumlah yang cukup rendah. Kemungkinan pertama, bisa jadi ada radang hati dadakan (acute hepatitis). Apa pun penyebab radang hatinya, bisa memunculkan tanda kolesterol darah yang biasanya stabil, mendadak turun. Demikian pula bila kelenjar gondok kelewat aktif (hyperthyroidism), atau sedang terserang infeksi yang muncul dadakan (acute infections), atau pada keadaan menurunnya fungsi ginjal yang tahap berat, sehingga ureum bocor dalam darah atau disebut uremia.       

Kadar kolesterol dalam darah selalu berubah-ubah di setiap waktu, meskipun perubahan ini tidak seberapa bedanya. Banyak faktor yang mempengaruhinya terutama faktor genetik, umur, seks dan lingkungan. Berdasarkan penjelasan di atas, maka pemeriksaan kadar koelsterol dalam darah sangat perlu dilakukan. Apabila seseorang mengetahui kadar kolesterol yang terdapat di dalam darah, maka akan dapat dilakukan sebuah langkah preventif untuk menjaga kestabilan kadar kolesterolnya.

Salah satu cara pemeriksaan kadar kolesterol adalah dengan metode enzimatik CHOD-PAP (Cholesterol Oksidase Phenol Aminoantipyrin). Prinsip metode ini adalah penguraian kolesterol dan esternya menjadi peroksida dengan hidrolisis dan oksidasi enzimatik. Indikator kuinonimin dibentuk dari hidrogen proksida dan 4-aminofenanzon yang berasal dari fenol dan peroksidase. Reaksi akhir akan menunjukkan warna merah muda yang intensitasnya diukur dengan fotometrik. Pemeriksaan kadar kolesterol melibatkan proses biokimia karena menggunakan reaksi enzimatis sehingga timbul reaksi yang menghasilkan senyawa akhir yang dapat mencerminkan kadar kolesterol dalam darah dan dapat diukur.

Pemeriksaan Kadar SGPT – SGOT

SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase), merupakan sebuah enzim yang biasanya ditemukan dalam jantung dan sel-sel hati. SGOT dilepaskan ke dalam darah ketika hati atau jantung rusak. Kadar SGOT dalam darah cukup tinggi apabila terjadi kerusakan hati (misalnya, hepatitis) atau apabila terjadi kerusakan jantung, (misalnya serangan jantung). Enzim SGPT berperan dalam deaminasi asam amino, pengeluaran gugus amino dari asam amino.

SGPT (Serum Glutamic Piruvic Transaminase), merupakan enzim yang banyak ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis terjadinya penurunan fungsi sel hati. Akan memindahkan gugus amino pada alanin ke gugus keto dari α-ketogutarat membentuk glutamat dan piruvat. Selanjutnya piruvat diubah menjadi laktat. Reaksi tersebut dikatalisasi oleh enzim laktat dehidrogenase (LDH) yang membutuhkan NHDA dalam reaksi yang dikatalisasinya. SGOT juga berperan dalam deaminase asam amino, SGOT mengkatalisasi pemindahan gugus amino pada aspartat ke gugus keto dari α-ketogutarat membentuk glutamat dan oksaloasetat dan selanjutnya oksaloasetat

Prinsip pemeriksaan kadar SGOT adalah sebagai berikut.  Aspartat bereaksi dengan 2- oksoglutarat GOT glutamat dan oksaloasetat. Oksaloasetat yang terbentuk bereaksi dengan 2,4 – dimitrophenylhidrazin dalam larutan alkalis. Hasil reaksi tersebut ditentukan secara fotometri pada panjang gelombang 500 sampai 560 nm. Pada prinsip tersebut jelas terlihat adanya reaksi kimia, itu adalah salah satu proses yang menerapkan ilmu kimia pada pemeriksaan kadar SGOT dalam darah.

Prinsip pemeriksaan kadar SGPT adalah Alanin bereaksi dengan 2–oksoglutarat GPT glutamat dan piruvat. Piruvat yang terbentuk bereaksi dengan 2,4 – dimitrophenylhidrazin dalam larutan alkalis. Hasil reaksi tersebut ditentukan secara fotometri pada panjang gelombang 500 sampai 560 nm. Pada prinsip tersebut jelas terlihat adanya reaksi kimia, itu adalah salah satu proses yang menerapkan ilmu kimia pada pemeriksaan kadar SGPT dalam darah.

 

Pemeriksaan Kadar Bilirubin

Berikut ini prosedur pemeriksaan kadar bilirubin dalam darah. Langkah pertama adalah pengambilan sample darah, sample darah diambil melalui pembuluh vena. Tahap kedua adalah pembuatan serum dengan cara mendiamkan darah yang berada dalam tabung vakuntainer selama 10 menit, kemudian memasukkan ke dalam tabung sentrifuge, dan selanjutnya disentrifius dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Lapisan jernih berwarna kuning muda yang berada di bagian atas dipisahkan dengan menggunakan pipet dan dimasukkan pada tabung lain yang bersih dan diberi label yang sesuai.

Tahap ketiga adalah pembuatan plasma, darah yang terdapat dalam tabung EDTA dibiarkan selama 5 menit. Kemudin dimasukkan ke dalam tabung dan disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Lapisan jernih warna kuning muda yang berada di bagian atas adalah plasma EDTA kemudian dipisahkan dengan menggunakan pipet dan dimasukkan pada tabung lain yang bersih dan diberi label yang sesuai. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kadar bilirubin total (serum + plasma) dengan menggunakan sebuah alat, sehingga dapat diketahui kadar bilirubin pada darah pasien.

Prinsip dari pemeriksaan kadar bilirubin adalah sebagai berikut. Bilirubin indirect yang terikat oleh albumin dibebaskan dengan adanya detergen. Bilirubin total akan bereaksi dengan garam 2,5-dichloro penyldiazonin, kemudian akan membentuk warna merah. Berdasarkan penjelasan tersebut, diketahui bahwa ilmu biokima dapat diaplikasikan untuk pemeriksaan bilirubin karena dengan mengetahui reaksi kimia yang terjadi antara senyawa organik (dari makhluk hidup) dengn  senyawa anorganik (sintetik), maka dapat dilakukan bebagai tes kandungan senyawa tertentu dalam tubuh makhluk hidup.

Daftar Rujukan

Anonim. 2010. Pemeriksaan Kadar Bilirubin Total dalam Serum dan Plasma pada Balita yang dirawat Inap di Rs.Telogorejo, (online), (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/125/jtptunimus-gdl-hijriyahwa-6221-3-babiii.pdf, diakses tanggal 16 September 2012)

Fathoni, Fajarullah. 2008. Studi Kadar SGPT, SGOT dan Total Protein Pada serum darah Anjing Kampung (Canis Familiaris) Usia 3 dan 6 Bulan, (online), (http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/3342/B08ffa.pdf?sequence=4, diakses tanggal 16 September 2012)

Limanto. 2010. Penentuan Kadar Kolesterol dengan Metode CHOD-PAP (Cholesterol Oksidase Phenol Aminoantipyrin). Yogyakarta:Sanata Dharma

Masrufi, Mochammad Machid. 2008. Pemeriksaan HDL dan LDL Kolesterol sebagai Parameter Penaksiran Resiko Penyakit Jantung Koroner, (online), (http://alumni.unair.ac.id/kumpulanfile/913832753_abs.pdf, diakses tanggal 16 September 2012).

 

Indonesia Layak Anak untuk Generasi Penerus Bangsa

Tanggal 23 Juli tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Anak Nasional di Indonesia. Hari raya ini tidak serentak diperingati pada tanggal yang sama di seluruh dunia. Untuk negara-negara lain, Hari Anak Internasional diperingati setiap tanggal 1 Juni, sedangkan Hari Anak Universal diperingati setiap tanggal 20 November. Untuk tahun 2013, tema yang diusung pada Hari Anak Nasional  adalah ‘Indonesia Yang Ramah Dan Peduli Anak Dimulai Dari Pengasuhan Dalam Keluarga. Salah satu slogan yang diusung kali ini adalah “Bersama kita wujudkan Indonesia Layak Anak”.

Pemerintah Indonesia berusaha untuk mewujudkan Indonesia layak anak, dimulai dengan konsep kota layak anak sebagai upaya mengamini hasil konvensi hak anak yang ditetapkan pada tanggal 5 September 1990. Lalu apa saja sih syarat suatu kota sehingga pantas disebut sebagai Kota Layak Anak? Berikut daftarnya sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Indikator Kabupaten/Kota Layak Anak.

 

Penguatan Kelembagaan

Kabupaten atau kota yang ingin menyandang predikat layak anak harus menjamin adanya  peraturan  perundang-undangan  dan  kebijakan untuk pemenuhan hak anak. Dengan adanya peraturan tersebut maka diharapkan hak anak yang tinggal di kota tersebut juga akan terpenuhi. Hal ini juga harus didukung dengan sumber daya manusia yang terlatih sehingga mampu  menerapkan  peraturan yang telah dibuat menjadi kebijakan-kebijakan yang pro terhadap anak. Pelaku pelaksana undang-undang tersebut tidak harus melulu pemerintah. Usaha perlindungan dan peningkatan kesejahteraan anak juga dapat melibatkan masyarakat umum seperti diadakannya posyandu, sekolah terbuka yang diadakan mandiri oleh kelompok masyarakat tertentu untuk membantu anak yang tidak dapat mengenyam pendidikan di sekolah formal, atau pengadaan taman bermain secara swadaya.

Persentase atau besarnya alokasi anggaran  untuk  pemenuhan  hak  anak juga harus memadai, agar suatu kota atau kabupaten dapat dikategorikan layak anak. Jumlah anggaran tersebut tidak disebutkan secara tegas dalam undang-undang. Tetapi ada beberapa pos yang harus terpenuhi anggarannya yaitu untuk pelatihan bagi aparat dan pendamping,  kampanye, sosialisasi, pemenuhan akta kelahiran, penyediaan fasilitas perpustakaan, fasilitas teknologi informasi, fasilitas bermain anak, pembinaan keluarga balita dan remaja, penyediaan dan pemeliharaan fasilitas dan tenaga konsultasi, penyediaan dan pemeliharaan panti, anggaran untuk menjamin ketercukupan gizi untuk anak, imunisasi, serta penanggulangan penyakit. Pendidikan juga aspek yang harus didanai secara memadai oleh pemerintah Kota atau Kabupaten seperti untuk pendidikan anak usia dini, wajib belajar 12 tahun, serta pengadaan juga pemeliharaan fasilitas rekreasi dan pengembangan kreatifitas anak.

 

Klaster  Hak  Anak

Hak anak yang harus dijamin oleh pemerintah dapat digolongkan menjadi beberapa poin yaitu hak sipil dan kebebasan anak, lingkungan keluarga dan pengasuhan, kesehatan dasar dan kesejahteraan, pendidikan,  pemanfaatan  waktu  luang,  dan  kegiatan budaya, serta perlindungan khusus. Untuk menjadi Kota Layak Anak, hak-hak tersebut harus terpenuhi. Berikut rinciannya.

1. Hak sipil dan kebebasan anak

Setiap anak  berhak teregistrasi  dan  mendapatkan Kutipan Akta Kelahiran. Selain itu, anak juga harus mendapatkan akses untuk berkumpul. Untuk itulah di setiap kota harus ada kelompok  anak atau forum  anak yang dapat mendukung interaksi antar anak.

2. Hak lingkungan keluarga dan pengasuhan.

Untuk mendukung hak anak yang satu ini, pemerintah kota atau kabupaten harus menyediakan lembaga  konsultasi  bagi  orang  tua atau keluarga tentang pengasuhan dan perawatan anak. Selain itu, penting juga untuk menyediakan lembaga kesejahteraan sosial khusus bagi anak.

3. Hak kesehatan dasar dan kesejahteraan

Terpenuhinya hak kesehatan dan kesejahteraan anak dapat dilihat dari angka kematian bayi, kekurangan gizi pada balita, persentase pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif di wilayah tersebut, jumlah Pojok ASI yang tersedia, persentase terpenuhinya imunisasi dasar lengkap, jumlah lembaga yang memberikan pelayanan kesehatan reproduksi dan mental, jumlah  anak  dari  keluarga  miskin  yang  memperoleh akses peningkatan kesejahteraan, persentase rumah tangga dengan akses air bersih, serta tersedia kawasan tanpa rokok termasuk dalam hal ini bersihnya kota dari pajangan iklan-iklan rokok.

4. Hak pendidikan,  pemanfaatan  waktu  luang,  dan  kegiatan budaya

Kalau hak dasar anak yang berikut ini, pemenuhannya dapat dilihat dari jumlah anak yang dapat mengikuti pendidikan anak usia dini misalnya PAUD atau TK,  persentase anak yang mendapatkan fasilitas untuk mencapai wajib  belajar  pendidikan dua  belas tahun, serta ketersediaan  sekolah  yang  menunjang aktifitas sekolah anak mulai dari perjalanan menuju sekolah, serta dan menyediakan fasilitas  untuk  kegiatan  kreatif  dan  rekreatif. Sarana kreatif  dan  rekreatif  juga harus tersedia di  luar  sekolah sehingga  yang  dapat  diakses oleh semua anak, misalnya tersedia lapangan olahraga atau taman bermain bagi anak.

5. Hak perlindungan khusus

Anak juga berhak untuk mendapatkan perlindungan khusus misalnya perlindungan bagi anak  berhadapan  dengan  hukum. Kasus hukum yang melibatkan anak harus diselesaikan  dengan  pendekatan  keadilan restoratif (restorative justice). Melalui pendekatan ini, anak yang melakukan pelanggaran hukum tidak diganjar dengan hukuman penjara, namun difokuskan pada pemulihan kondisi anak baik secara fisik maupun psikis. Hukuman yang diberikan dapat diganti dengan mewajibkan pembayaran ganti rugi atau dengan mewajibkan terpidana untuk melakukan kerja sosial.

 

Hak perlindungan khusus bagi anak juga meliputi hak anak untuk mendapatkan perawatan dan perlindungan jika terjadi bencana, termasuk pasca bencana seperti pemulihan traumatik. Anak juga harus terlindung dari pemanfaatan tenaganya untuk melakukan pekerjaan yang tidak layak atau mengganggu hak dasar anak yaitu bermain dan belajar.

Nah, ternyata banyak juga ya tugas pemerintah kota atau kabupaten jika ingin mendapatkan predikat layak anak. Meskipun begitu, satu per satu hak anak tersebut harus diwujudkan sehingga tercapai Indonesia yang layak anak, demi generasi penerus bangsa yang lebih baik.

PENGAMATAN FASE MITOSIS PADA TUDUNG AKAR BAWANG MERAH (Allium Cepa L.)

Pada pengamatan pertama, didapatkan sel yang memiliki kromosom yang belum membelah, dan letaknya bergerombol di tengah dengan warna yang jelas dan susunannya agak merenggang. Sehingga pada sel ini dapat disimpulkan mengalami pembelahan mitosis pada tahap awal yaitu profase.

Pada pengamatan kedua tampak sebuah sel yang kromosomnya sudah memisah dan menuju ke kedua kutub yang berlawanan. Sehingga fase ini kami simpulkan bahwa terjadi pembelahan sel yaitu pembelahan pada fase anafase.

Pada pengamatan ketiga, didapatkan sel yang intinya (kromosom) sudah terpisah sempurna namun dinding selnya belum terpisah secara sempurna. Sehingga dengan demikian kami menyimpulkan bahwa pada saat ini sel mengalami pembelahan mitosis tahap telofase.

Pengamatan yang tidak teramati adalah fase metafase, pada fase ini kromosom menyusun diri secara acak pada satu bidang ekuator atau tengah-tengah sel.

Untuk mengamati tahap-tahap pembelahan mitosis dilakukan pemotongan akar pada saat tengah malam, yaitu pukul 24.00 WIB. Menurut Margono (1973) hal ini dikarenakan pada ujung akar bawang merah banyak sel yang mengalami aktifitas pembelahan dengan rentangan 5 menit sebelum dan sesudah pukul 24 malam sehingga diharapkan tahap-tahap mitosis dapat diamati.

Pemotongan bagian ujung akar (pada jam 12 malam) yang kemudian dilanjutkan dengan perendaman potongan ke dalam larutan FAA. Perendaman dilakukan agar sel tidak mengalami pembelahan lagi, karena tidak memungkinkan bagi kami untuk langsung mengamati tahap-tahap mitosis pada tudung akar bawang merah pada saat itu juga. Larutan FAA merupakan larutan fiksatif yang dapat menahan sel untuk tidak membelah lagi sehingga tahap-tahap pembelahan mitosis dapat teramati.

Sebelum pengamatan atau pembuatan preparat, dilakukan dua kali perendaman dengan perendaman pertama pada alkohol 70% selama dua menit dan rendaman selanjutnya pada larutan HCL 1N selama lima menit. Perendaman pada alkohol bertujuan untuk mensterilkan dan membersihkan sisa larutan FAA yang kemungkinan masih menempel pada potongan akar. Sementara itu, larutan HCL 1 N berfungsi memperjelas batas antara daerah tudung akar dengan bagian yang lain karena dengan pemberian larutan ini daerah tudung akar akan terlihat lebih putih daripada bagian lainnya.

Setelah terlihat jelas perbedaan antara tudung akar dengan bagian akar yang bukan tudung akar, maka dilanjutkan dengan pemotongan bagian tudung dan peletakan potongan pada kaca benda yang diikuti dengan pemberian acetocarmin dan pencacahan tudung akar menggunakan silet berkarat. Pemberian acetocarmin akan memberikan pewarnaan dan akan mempermudah pengamatan, sementara pencacahan dengan silet berkarat dapat membantu pengikatan warna yang dilakukan oleh kromosom karena silet yang berkarat terdapat Fe yang teroksidasi. Tahap terakhir adalah pemanasan, pemanasan dilakukan bertujuan untuk mempercepat proses penyerapan warna dari asetocarmin.

Dari hasil pengamatan pada pembelahan mitosis di dapatkan tiga fase, fase pertama yang ditemukan yaitu profase.

sumber : http://www.life.uiuc.edu/ib/102/lectures/08reproduction.html

Pada fase ini terlihat sel dengan bagian inti yang sudah mulai terakhir seperti benang-benang yang tidak teratur. Pada fase ini sel sudah mempersiapkan diri untuk membelah yang ditandai dengan berubahnya memadatnya kromosom, membran inti tidak terlihat dan nukleolus menghilang.

Selanjutnya ditemukan fase anafase. Berdasarkan pengamatan, fase ini memperlihatkan kromosom yang sudah mulai memisah dan menuju ke arah dua kutub yang berlawanan.

sumber : http://www.life.uiuc.edu/ib/102/lectures/08reproduction.html

Fase selanjutnya yang ditemukan adalah telofase. Pada fase ini kromosom telah menyelesaikan pergerakannya menuju kutub dan mulai menyebar di dalam membran nukleus. Selama tahap ini berlangsung suatu dinding sel baru mulai terbentuk diantara dua nukleus baru (Wells dan Mogen, 1991). Dalam pengamatan, fase ini terlihat sel yang memiliki dua inti dengan dinding sel bagian tengah yang sudah mengalami sitokinesis.

sumber : http://www.life.uiuc.edu/ib/102/lectures/08reproduction.html

Fase yang tidak ditemukan pada pengamatan kali ini adalah metafase. Pada fase ini  kromosom menyusun diri secara acak pada satu bidang ekuator atau tengah-tengah sel. Pada awal fase ini, membran nukleus dan nukleolus lenyap. Sentromer, suatu daerah vital bagi pergerakan kromosom, melekat pada serabut gelendong yang bertanggung jawab terhadap arah pembelahan kromosom selama pembelahan (Welsh dan Mogen 1991).

sumber : http://www.life.uiuc.edu/ib/102/lectures/08reproduction.html

Fase ini tidak dapat kami temukan dalam pengamatan kemungkinan karena waktu pemotongan akar yang kurang tepat, kekurangtelitian dalam pengamatan dan keterbatasan waktu.

Hello there…!

Kita semua tumbuh, kita selalu berubah.

Blog ini akan tetap menyediakan informasi yang (semoga) berguna, walaupun kadang akan berisi beberapa pemikiran pribadi saya yang tidak selalu semua orang setuju. Silakan berpendapat melalui kolom komentar atau silakan hubungi saya melalui email dengan alamat ema.aprilisa@gmail.com.